WhatsApp Icon
“Ukhuwah Rabbitiyah”: Membangun Ekosistem Peternak Kelinci Menjadi Berdaya

UNGARAN, BAZNAS - Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang Khadziq Faisol punya istilah sendiri untuk menggambarkan harapannya terhadap Bantar Rabbit Farm (BRF), kelompok peternak kelinci di Dusun Bantar, Desa Popongan, Kecamatan Bringin. Ia menyebutnya “Ukhuwah Rabbitiyah”.

Istilah itu disampaikan Faisol saat BAZNAS menyerahkan bantuan pengembangan modal usaha Rp30 juta kepada BRF, Jumat 21 Agustus 2026. 

Menurut dia, bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penambahan kandang dan indukan. BRF bisa berkembang menjadi sentra budidaya sekaligus pusat informasi dan pengetahuan tentang kelinci di Popongan.

“Semoga kerja sama ini tidak berhenti di sini. Tidak hanya peternaknya, tetapi juga menjadi pusat informasi dan pengetahuan tentang kelinci,” kata Faisol.

Ketua kelompok Bantar Rabbit Farm Margono Muzakir, mengatakan bantuan tersebut akan digunakan untuk memperbaiki kandang, menambah indukan, dan mengembangkan usaha.

Kelompok yang semula beranggotakan sekitar 30 orang itu kini tersisa sekitar 22 anggota. Jumlah ternaknya diperkirakan sekitar 100 ekor.

Margono melihat masih banyak ruang untuk mengembangkan usaha kelinci. Selain budidaya, BRF berencana pengembangan wisata edukasi bagi anak-anak sekolah, kuliner berbahan kelinci, hingga penjualan pupuk organik dari kotoran kelinci.

Untuk wisata edukasi, misalnya, anak-anak dapat datang mengenal kelinci dan cara pemeliharaannya, termasuk memberi makan secara langsung.

Gagasan tersebut sejalan dengan harapan Kepala Desa Popongan Nurul Huda. Ia menyebut peternakan kelinci mulai menjadi salah satu ikon desa dan berharap Popongan berkembang menjadi sentra kelinci.

“Peternakan kelinci ini jadi ikon Desa Popongan. Harapannya menjadi sentra kelinci, sehingga program ini bisa merembet ke seluruh desa,” katanya.

Menurut Faisol, bantuan Rp30 juta itu bukan akhir dari program pemberdayaan. BAZNAS Kabupaten Semarang juga akan melakukan pendampingan terhadap kelompok tersebut.

Faisol mengatakan BRF sebelumnya telah mendapatkan pelatihan budidaya kelinci sekitar setahun lalu. 

Ia berharap proses tersebut berlanjut sehingga bantuan yang diberikan benar-benar menghasilkan perkembangan usaha.

“Terima kasih kepada para muzaki dan munfik yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekah kepada BAZNAS,” kata Faisol.

Pola pemberdayaan melalui pendampingan peternak sebelumnya juga dilakukan BAZNAS di Balai Ternak Menda Ngrembaka, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang.

Program pembinaan peternak kambing di sana telah berjalan sekitar setahun. Pada Idul Adha lalu, ternak binaan sudah dapat dipanen untuk kebutuhan hewan kurban maupun penyembelihan dam haji.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bantuan ternak membutuhkan proses. 

Faisol berharap BRF tidak hanya berkembang dari sisi jumlah ternak. Pengetahuan tentang kelinci juga diharapkan menyebar dan menjadi bagian dari pengembangan ekonomi desa.

Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan zakat tidak hanya diukur dari bantuan yang tersalurkan. Ada harapan penerima manfaat dapat berkembang secara ekonomi dan suatu saat mampu menjadi muzaki.

“Kalau sudah sukses menjadi juragan kelinci, jangan lupa menjadi muslim yang kafah dengan membayar zakat,” ujar Faisol.(*)

21/08/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Kader Penggerak Zakat Semarang Paparkan Rencana Tindak Lanjut Fundraising

UNGARAN, BAZNAS — Peserta Bimbingan Teknis Kader Penggerak Zakat Kabupaten Semarang memaparkan rencana tindak lanjut (RTL) fundraising setelah menjalani praktik penghimpunan zakat selama hampir sebulan.

Mereka membawa sejumlah gagasan, dari gerakan infak subuh berbasis QRIS hingga kampanye zakat melalui media sosial.

Pemaparan itu berlangsung dalam Seminar Laporan Rencana Tindak Lanjut (RTL) Fundraising Zakat di Aula Kantor BAZNAS Kabupaten Semarang, Selasa, 18 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut praktik fundraising yang berlangsung pada 13 Juli hingga 8 Agustus 2026.

Program Bimtek Kader Penggerak Zakat itu merupakan kerja sama Balai Diklat Keagamaan Semarang, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, dan BAZNAS Kabupaten Semarang.

Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang Khadziq Faisol mengatakan praktik lapangan menjadi bagian penting untuk menguji kemampuan kader setelah mendapatkan pembekalan dalam bimtek.

“Fundraising sekarang tidak bisa hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Kader harus mampu membaca potensi di wilayahnya, membangun pendekatan dengan masyarakat, dan memanfaatkan teknologi digital agar zakat dan infak lebih mudah dihimpun,” kata Khadziq.

Seminar tersebut diikuti peserta yang terbagi dalam enam kelompok atau zona. Masing-masing kelompok memaparkan hasil praktik sekaligus rencana tindak lanjut fundraising berdasarkan potensi dan karakter masyarakat di wilayah dampingan.

Dalam seminar itu, setiap kelompok memaparkan strategi yang disusun berdasarkan karakter wilayah dan calon muzaki yang mereka bidik.

Kelompok Zona 6, yang terdiri atas kader dari Bandungan dan Sumowono, mengusulkan optimalisasi gerakan “Ayo Infak Subuh” berbasis digital dengan menggunakan QRIS. 

Gerakan tersebut akan diperkuat melalui kampanye media sosial bertajuk “Infak Kecil, Dampak Besar”.

Mereka juga merancang kartu Infak Subuh di lingkungan KUA dan mengajak UPZ kecamatan terlibat dalam penghimpunan.

Kelompok yang mencakup Banyubiru, Jambu, dan Ambarawa memilih pendekatan ganda. Secara luring, kader akan melakukan pemetaan secara humanis dengan menyasar pelaku UMKM dan pedagang komoditas.

Target penghimpunan mereka sebesar Rp500 ribu per kader setiap bulan.

Untuk jalur digital, kelompok tersebut menyiapkan konsep infak tematik yang menyasar masyarakat umum dengan target penghimpunan yang sama. Mereka juga merancang ekosistem zakat digital melalui penyebaran stiker QRIS di ruang pertemuan, kantor, dan lokasi UMKM.

Kampanye akan diperkuat melalui WhatsApp, tautan media digital, serta landing page UPZ.

Sementara kelompok yang terdiri atas wilayah Ungaran Barat, Ungaran Timur, dan Bringin menyasar generasi muda melalui program “Gen Z Care”.

Program tersebut menggunakan Instagram, TikTok, Facebook, WhatsApp Business, QRIS, tautan donasi, dan landing page. Sasaran yang dituju antara lain karyawan muda, ASN, guru bersertifikasi, pekerja digital, freelancer, kreator konten, pendiri startup, profesional muda, serta peserta bimbingan perkawinan di KUA.

Target penghimpunannya Rp300 ribu per bulan untuk periode Agustus 2026 hingga Juli 2027.

Kelompok tersebut juga menyusun program “Koin Manfaat”, berupa kampanye sedekah melalui Z-Mart, kotak koin kembalian, dan program “Jumat Berkah”. Program ini menargetkan penghimpunan Rp100 ribu.

Khadziq mengatakan penilaian terhadap peserta tidak hanya didasarkan pada jumlah dana yang berhasil dihimpun. Kemampuan menyusun strategi dan membangun ekosistem zakat di wilayah masing-masing juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

“Yang kami nilai bukan hanya berapa dana yang terkumpul, tetapi bagaimana kader membangun ekosistem zakat di wilayahnya. Karena tujuan akhirnya adalah membangun kesadaran masyarakat untuk berzakat dan berinfak secara berkelanjutan,” ujar Khadziq.

Pemaparan RTL tersebut sekaligus menjadi tahap evaluasi setelah peserta menjalani praktik fundraising. Para peserta diuji oleh pimpinan BAZNAS Kabupaten Semarang, Khadziq Faisol, M. Mufid, dan M. Anas Hadi.

Penilaian peserta mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil penilaian menjadi bagian dari evaluasi program sekaligus dasar bagi peserta untuk menjalankan rencana tindak lanjut di wilayah masing-masing.

Melalui RTL tersebut, kader tidak hanya diminta kembali dengan target penghimpunan. Mereka juga harus menentukan calon muzaki, membangun jejaring dengan UPZ, memilih pendekatan yang sesuai, serta memanfaatkan kanal digital untuk memperluas penghimpunan zakat dan infak.(*)

19/08/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
15 Mustahik di Bringin Mendapat Modal Beternak Kelinci dari Dana Zakat

UNGARAN,BAZNAS — Dana zakat tak berhenti pada santunan. Di Kabupaten Semarang, sebagian dana itu dialihkan menjadi modal usaha bagi warga yang membutuhkan. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Semarang menyalurkan Rp30 juta untuk program pemberdayaan peternak melalui budidaya kelinci.

Bantuan tersebut diberikan kepada Kelompok Ternak Bantar Rabbit Farm di Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Dana digunakan untuk pembelian bakalan kelinci yang akan dibudidayakan oleh 15 mustahik anggota kelompok.

Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Pimpinan BAZNAS Kabupaten Semarang Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Suud, kepada Ketua Kelompok Ternak Bantar Rabbit Farm, Mudzakir, di sela Sarasehan Ulama-Umara ke-322 di halaman Kantor Kecamatan Bringin, Selasa, 11 Agustus 2026.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya BAZNAS menggeser pola penyaluran zakat dari bantuan konsumtif menuju pemberdayaan ekonomi. Para penerima tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi memperoleh modal awal untuk mengembangkan usaha peternakan.

“Bantuan ini kami arahkan untuk pemberdayaan. Harapannya, para mustahik dapat mengembangkan usaha dan pada akhirnya meningkatkan kemandirian ekonominya,” kata Suud dalam kegiatan tersebut.

Menurut dia, budidaya kelinci dipilih sebagai salah satu bentuk usaha produktif yang dapat dikembangkan kelompok masyarakat. Pengelolaan secara berkelompok diharapkan membuat penerima manfaat tidak berjalan sendiri-sendiri dalam mengembangkan ternaknya.

Penyaluran bantuan itu berlangsung ketika BAZNAS Kabupaten Semarang juga melaporkan perkembangan penghimpunan zakat, infak dan dana sosial selama Juli 2026. Total perolehan mencapai Rp577,8 juta.

Dari jumlah tersebut, dana zakat mencapai Rp292,88 juta, infak Rp275,49 juta, dan dana sosial Rp9,43 juta.

Kontribusi terbesar berasal dari lingkungan organisasi perangkat daerah Kabupaten Semarang dengan perolehan Rp397,88 juta. Dari sektor tersebut, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga menjadi penyumbang terbesar, yakni Rp294,14 juta.

Dari instansi vertikal, perolehan mencapai Rp57,37 juta. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang menjadi penyumbang terbesar dari kelompok ini dengan Rp42,68 juta.

Selain itu, BAZNAS mencatat perolehan dari BUMN, BUMD, perbankan dan lembaga sebesar Rp4,86 juta, UPZ kecamatan Rp94,74 juta, serta perorangan Rp24,94 juta.

Pada kesempatan yang sama, BAZNAS juga menerima penghimpunan dari UPZ 19 kecamatan dengan total Rp108,5 juta. UPZ Kecamatan Bringin menjadi salah satu yang memberikan kontribusi terbesar, yakni Rp17 juta, disusul Ambarawa Rp15 juta dan Jambu Rp10 juta.

Suud mengatakan penghimpunan zakat tersebut pada akhirnya dikembalikan kepada masyarakat dalam berbagai bentuk program. Selain budidaya kelinci, BAZNAS Kabupaten Semarang baru-baru ini menyalurkan bantuan pelatihan pijat refleksi untuk 40 mustahik, pelatihan kader penggerak zakat bagi 40 orang, serta program Z-Mart yang menyasar 51 mustahik.

Program-program tersebut menunjukkan pola pendayagunaan zakat yang tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan langsung, tetapi juga peningkatan kapasitas dan penguatan sumber penghidupan penerima manfaat.

Sarasehan Ulama-Umara tingkat Kabupaten Semarang di Kecamatan Bringin dihadiri oleh unsur Forkopimda, kepala instansi vertikal, kepala organisasi perangkat daerah, camat, kepala KUA, pengurus UPZ kecamatan, penyuluh agama Islam, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga Bringin.

BAZNAS Kabupaten Semarang menjadwalkan Sarasehan Ulama-Umara dan pentasyarufan tingkat kecamatan berikutnya di Kecamatan Pabelan pada Selasa, 15 September 2026.(*)


12/08/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
BAZNAS-LPAI Bidik Anak Rentan dengan Dana ZIS

JAKARTA, BAZNAS — Anak-anak korban kekerasan, bencana, kemiskinan, hingga mereka yang hidup dalam situasi khusus menjadi sasaran kerja sama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). 

Kedua lembaga itu menyiapkan pemanfaatan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk membantu memenuhi hak dasar anak.

Rencana tersebut dibahas dalam audiensi BAZNAS RI dan LPAI di Gedung BAZNAS RI, Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2026. 

Pertemuan dihadiri Pimpinan BAZNAS RI Bidang Mobilisasi dan Pengumpulan Rizaludin Kurniawan, Ketua Umum LPAI Samsul Ridwan, dan Wakil Ketua Umum III LPAI Titik Suharyati.

Sasaran program tidak hanya anak yatim piatu dan dhuafa. Anak penyandang disabilitas, korban kekerasan, korban bencana, anak terlantar, hingga anak dalam situasi khusus juga masuk dalam pembahasan. 

Jangkauannya dirancang mencakup anak-anak di dalam negeri maupun luar negeri.

Rizaludin mengatakan kerja sama itu dapat diarahkan ke sejumlah kebutuhan, dari pendidikan hingga kesehatan. 

Beasiswa untuk anak dari keluarga prasejahtera, layanan kesehatan, penanganan stunting, dan perlindungan anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) menjadi beberapa pilihan program.

"Kami melihat banyak ruang program yang dapat disinergikan, mulai dari bantuan akses pendidikan dan beasiswa anak prasejahtera, bantuan kesehatan, penanganan stunting, hingga perlindungan anak di lingkungan khusus seperti Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA)," ujar Rizaludin.

Namun persoalan anak, menurut Rizaludin, tidak selalu bermula dari anak. Kondisi ekonomi keluarga turut menentukan seberapa jauh anak terlindungi dari kekerasan, penelantaran, dan eksploitasi.

"Ketika ekonomi keluarga kuat, anak-anak akan lebih terlindungi dari potensi kekerasan, penelantaran, maupun eksploitasi," kata dia.

Karena itu, program yang dibicarakan BAZNAS dan LPAI tidak hanya menyentuh anak. Penguatan ekonomi keluarga rentan juga menjadi bagian dari rencana tersebut.

Persoalannya kemudian adalah sumber pembiayaan. BAZNAS memiliki dana zakat yang penggunaannya diperuntukkan bagi mustahik Muslim. 

Untuk menjangkau penerima manfaat yang lebih luas, lembaga itu juga dapat menggunakan dana infak terikat, sedekah, serta dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

"Keberadaan dana infak dan CSR ini memberikan fleksibilitas bagi BAZNAS mendukung LPAI untuk menjangkau seluruh anak Indonesia dari kelompok masyarakat rentan secara inklusif," ujar Rizaludin.

Menurut dia, skema tersebut memungkinkan program menjangkau anak-anak di wilayah perbatasan, daerah bencana, maupun anak Indonesia di luar negeri.

Ketua Umum LPAI Samsul Ridwan mengatakan perlindungan anak terlalu besar jika dibebankan kepada satu lembaga.

LPAI membutuhkan dukungan lembaga negara dan lembaga zakat untuk menjangkau anak-anak yang hak dasarnya belum terpenuhi.

"Masalah perlindungan anak tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga saja. Oleh karena itu, LPAI membutuhkan sinergi dan kolaborasi erat dengan lembaga-lembaga negara serta lembaga zakat nasional seperti BAZNAS," kata Samsul.

Samsul mencontohkan anak korban kekerasan, anak yatim piatu, anak di wilayah bencana, serta anak pekerja migran di daerah perbatasan. 

Sebagian dari mereka, kata dia, masih menghadapi persoalan mendasar seperti ketiadaan akta kelahiran, akses pendidikan, dan layanan kesehatan.

"Melalui kerja sama ini, kami ingin memastikan anak-anak korban kekerasan, anak yatim piatu, anak di wilayah bencana, hingga anak pekerja migran di daerah perbatasan yang kehilangan hak dasar atas akta kelahiran, pendidikan, dan kesehatan, bisa mendapatkan hak-haknya kembali," ucap Samsul.

Audiensi tersebut turut dihadiri Kepala Divisi Ritel BAZNAS RI Arief Budiman, Kepala Divisi Digital Fahrudin, dan Kepala Divisi UPZ Nasional BAZNAS RI Tri Hadian.(*)

11/08/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
BAZNAS Gelontorkan Rp388,2 Juta untuk 51 Warung Rakyat, Bidik Mustahik Naik Kelas Menjadi Muzaki

BAZNAS, UNGARAN – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memilih warung kelontong sebagai pintu masuk mengurangi kemiskinan di Kabupaten Semarang. Melalui program Z-Mart, BAZNAS menyalurkan bantuan Rp386 juta kepada 51 pelaku usaha mikro dengan target yang tidak sederhana: mengubah penerima zakat (mustahik) menjadi pembayar zakat (muzaki).

Program tersebut diluncurkan Ketua Baznas Jawa Tengah KH Ahmad Daroji, mewakili Baznas RI, di Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang, Senin, 3 Agustus 2026. Acara itu dihadiri Bupati Semarang Ngesti Nugraha, Wakil Bupati Nur Arifah, pimpinan Baznas Kabupaten Semarang, serta puluhan penerima manfaat.

Ketua Baznas Kabupaten Semarang Khadziq Faisol mengatakan sebanyak 30 pelaku usaha mikro menerima bantuan dari Baznas RI senilai Rp240 juta, sedangkan 21 pelaku usaha lainnya memperoleh dukungan dari Baznas Kabupaten Semarang sebesar Rp148,2 juta.

"Total bantuan yang disalurkan mencapai Rp388,2 juta," kata Khadziq.

Menurut dia, seluruh penerima dipilih melalui proses seleksi dan verifikasi. Sebagian besar merupakan pelaku usaha berusia di bawah 45 tahun yang dinilai memiliki potensi mengembangkan usahanya.

Namun, bantuan yang diberikan tidak berhenti pada tambahan modal. Z-Mart merupakan program pemberdayaan ekonomi berbasis usaha ritel mikro yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas warung rakyat agar mampu bertahan dan berkembang di tengah ekspansi ritel modern.

Program ini sekaligus menjadi salah satu strategi Baznas dalam mengatasi kemiskinan, terutama di wilayah perkotaan.

Karena itu, setiap penerima memperoleh paket bantuan yang lebih lengkap dibanding bantuan usaha pada umumnya. Selain penambahan stok barang dagangan, Baznas membantu memperbaiki tampilan warung melalui penataan etalase, pemasangan identitas usaha (branding), serta penyediaan perlengkapan pendukung agar kios terlihat lebih rapi dan menarik.

Pengadaan barang dagangan maupun kebutuhan penunjang usaha dilakukan melalui penyedia barang dan jasa yang bekerja sama dengan Baznas. Skema tersebut diterapkan agar kualitas barang, efisiensi harga, dan standar tampilan warung dapat terjaga di seluruh jaringan Z-Mart.

Pendampingan usaha juga menjadi bagian penting dari program ini. Para penerima memperoleh pelatihan mengenai pencatatan keuangan, pengelolaan persediaan barang, pemasaran digital, hingga strategi meningkatkan pelayanan kepada pelanggan. Harapannya, warung tidak hanya bertahan karena suntikan modal, tetapi mampu berkembang sebagai usaha yang sehat dan berkelanjutan.

"Hasilnya mulai terlihat. Setelah dilakukan intervensi, ada warung yang mengalami peningkatan omzet hingga sekitar Rp5 juta per bulan," ujar Khadziq.

Menurut dia, indikator keberhasilan program tidak hanya diukur dari besarnya omzet, tetapi juga dari kemampuan pelaku usaha mempertahankan bisnisnya, memperluas pasar, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Ketua Baznas Jawa Tengah KH Ahmad Daroji mengatakan zakat produktif harus mampu menciptakan kemandirian ekonomi bagi mustahik. Karena itu, bantuan modal usaha dipilih sebagai salah satu instrumen agar penerima zakat memiliki sumber penghasilan yang berkelanjutan.

"Harapannya para penerima program ini suatu saat menjadi muzaki. Mereka harus bersungguh-sungguh mengembangkan usahanya. Dengan kesungguhan, Allah akan memberikan jalan," katanya.

Ia berharap jaringan Z-Mart dapat berkembang hingga menjangkau 235 desa dan kelurahan di Kabupaten Semarang. Semakin banyak warung binaan yang tumbuh, menurut dia, semakin besar pula kontribusi zakat dalam mengurangi kemiskinan dan memperkuat ekonomi masyarakat.

Bupati Semarang Ngesti Nugraha menilai program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah memperkuat sektor usaha mikro yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Kabupaten Semarang meningkat dari 5,61 persen menjadi 5,65 persen. Menurut dia, pertumbuhan sektor industri yang diikuti berkembangnya UMKM akan meningkatkan daya beli masyarakat.

"Kalau pertumbuhan ekonomi meningkat, daya beli masyarakat juga naik. Warung-warung tentu akan semakin banyak pembelinya," kata Ngesti.

Ia juga mengingatkan agar pelaku usaha kecil tidak memandang kehadiran usaha lain sebagai ancaman. Menurut dia, keberadaan Koperasi Desa Merah Putih diharapkan mengambil peran sebagai distributor kebutuhan pokok sehingga memperkuat warung rakyat, bukan menjadi pesaing dalam penjualan eceran.

"Program pemerintah harus tetap berjalan optimal, tetapi warung-warung kecil milik masyarakat juga harus berkembang," ujarnya.

Bagi Subaekah, 39 tahun, program Z-Mart menjadi titik balik bagi kios kelontong yang selama ini berjalan di tempat akibat keterbatasan modal. Dengan tambahan stok barang dan pembenahan tampilan warung, ia berharap usahanya kembali berkembang.

"Saya sangat bersyukur mendapat bantuan dari Baznas. Kios saya sempat stagnan karena modal terbatas. Sekarang saya punya kesempatan menambah barang dagangan dan semoga usaha ini semakin maju," katanya.

Harapan serupa juga disampaikan Slamet Rahayu, 46 tahun, warga Dusun Karang Bolo, Desa Kerep, Kecamatan Ungaran Barat. Penjual makanan ringan itu mengaku pendapatan warungnya selama ini tidak menentu.

"Bantuan ini saya harapkan bisa menambah pendapatan warung saya," ujarnya.

Bagi Baznas, kisah Subaekah dan Slamet menjadi ukuran sesungguhnya dari keberhasilan Z-Mart. Ketika warung-warung kecil mampu bertahan, berkembang, dan menghasilkan pendapatan yang layak, zakat tidak lagi berhenti sebagai bantuan sosial, melainkan menjadi investasi sosial yang mendorong mustahik naik kelas menjadi pelaku usaha mandiri—bahkan, suatu hari nanti, menjadi muzaki.(rul)

03/08/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS Kabupaten Semarang

Berita Terbaru

Perbedaan dan Waktu Pembayaran Zakat Maal dan Zakat Fitrah: Apa yang Harus Anda Ketahui?
Perbedaan dan Waktu Pembayaran Zakat Maal dan Zakat Fitrah: Apa yang Harus Anda Ketahui?
Selamat, kita telah memasuki hari ke-9 di bulan Ramadhan 1447H. Saat ini sudah masuk ke fase kedua Ramadhan, di mana kesadaran umat Islam untuk membayar zakat cenderung meningkat. Namun, seringkali muncul pertanyaan seputar perbedaan antara Zakat Maal dan Zakat Fitrah serta apakah perlu membayar keduanya. Agar ibadah harta kita sah dan sesuai syariat, penting untuk memahami perbedaan keduanya. Zakat Fitrah, juga dikenal sebagai Zakat Jiwa, adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh semua muslim, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, yang dilakukan selama bulan Ramadhan hingga sebelum Idul Fitri. Zakat ini bertujuan untuk mensucikan diri dan membantu fakir miskin agar turut merayakan hari raya. Sementara itu, Zakat Maal, atau Zakat Harta, dikenakan atas harta atau kekayaan yang dimiliki seseorang sesuai syarat dan ketentuan tertentu. Berbeda dengan Zakat Fitrah yang terikat waktu pada bulan Ramadhan, Zakat Maal dapat ditunaikan kapan saja selama syaratnya terpenuhi. Tujuan Zakat Maal adalah untuk mensucikan harta yang dimiliki dan mendistribusikan kekayaan agar berputar di kalangan masyarakat yang membutuhkan. Jumlah zakat yang harus dikeluarkan berbeda untuk Zakat Fitrah dan Zakat Maal. Untuk Zakat Fitrah, besarannya setara dengan 3,5 liter atau 2,5 kg makanan pokok yang biasa dikonsumsi sehari-hari, atau dapat dikonversi dalam bentuk uang. Sedangkan Zakat Maal dikeluarkan sebesar 2,5% dari total harta yang telah memenuhi syarat Nisab. Meskipun Zakat Maal bisa dibayarkan kapan saja setelah mencapai masa kepemilikan satu tahun, banyak umat Islam di Sulawesi Selatan dan seluruh dunia memilih membayar zakat ini di bulan Ramadhan untuk mendapatkan pahala berlipat ganda dan sebagai pengingat tahunan. Jika harta Anda telah mencapai nisab, disarankan untuk segera membayar zakat sebagai hak bagi fakir miskin yang membutuhkan. Dengan pemahaman yang lebih jelas mengenai perbedaan Zakat Maal dan Zakat Fitrah, mari bersiap menyambut harapan keberkahan selanjutnya di bulan suci ini. Salurkan zakat Anda melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Semarang untuk memperkuat kerjasama dalam pemenuhan kewajiban zakat. Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua dalam menjalankan ibadah zakat dengan benar dan penuh keberkahan.
BERITA27/02/2026 | Humas BAZNAS SULSEL
BAZNAS RI Menetapkan Ambang Batas Zakat untuk Penghasilan dan Jasa Tahun 2026 Sebesar Rp7.640.144 per Bulan
BAZNAS RI Menetapkan Ambang Batas Zakat untuk Penghasilan dan Jasa Tahun 2026 Sebesar Rp7.640.144 per Bulan
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Indonesia telah menetapkan nisab zakat penghasilan dan jasa tahun 2026 sebesar Rp7.640.144 per bulan atau setara dengan Rp91.681.728 per tahun. Hal ini diputuskan setelah musyawarah pada Jumat, 20 Februari 2026, dengan mempertimbangkan aspek syariah, regulasi, dan kondisi ekonomi masyarakat. Menurut Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Prof. Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag., penetapan nisab ini mengacu pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 31 Tahun 2019 dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 3 Tahun 2003 tentang Zakat Penghasilan. Nisab ini didasarkan pada harga emas 14 karat setara dengan 85 gram emas, dengan nilai Rp91.681.728 per tahun atau Rp7.640.144 per bulan, yang menjadi standar minimal penghasilan untuk wajib zakat sebesar 2,5 persen. Nilai nisab ini mengalami kenaikan 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sejalan dengan kenaikan upah tahunan sebesar 6,17 persen. Penetapan menggunakan emas 14 karat dianggap relevan karena seimbang antara syariah dan kemaslahatan umat, serta memperhatikan rata-rata pendapatan masyarakat. Keputusan penetapan nisab ini telah diatur dalam Surat Keputusan Ketua BAZNAS Nomor 15 Tahun 2026 pada Sabtu, 21 Februari 2026. Ketua BAZNAS, Prof. Dr. KH. Noor Achmad, M.A., menekankan bahwa penetapan nisab harus dilakukan tanpa penundaan untuk menjaga kepastian hukum dan keseragaman tata kelola zakat nasional. Dia juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan dampak layanan kepada Mustahik dalam pengambilan keputusan terkait nisab zakat. Dengan penyesuaian standar emas dan perhatian terhadap kepentingan masyarakat, diharapkan pengelolaan zakat nasional dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. Bagi masyarakat Blitar yang telah mencapai nisab, diimbau untuk menunaikan zakat melalui layanan resmi BAZNAS Kabupaten Blitar untuk pemberdayaan yang lebih efektif.
BERITA27/02/2026 | Humas BAZNAS Kab. Blitar
BAZNAS Indonesia Menegaskan Bahwa Zakat Tidak Dialokasikan untuk Program MBG
BAZNAS Indonesia Menegaskan Bahwa Zakat Tidak Dialokasikan untuk Program MBG
BAZNAS RI Tegaskan Zakat Tidak Digunakan untuk Program MBG Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menegaskan bahwa dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang dikumpulkan dari muzaki dan masyarakat tidak akan dipergunakan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dr. H. Rizaludin Kurniawan, S.Ag., M.Si., CFRM., Pimpinan Bidang Pengumpulan BAZNAS RI, menyatakan bahwa penggunaan dana ZIS memiliki ketentuan yang sangat jelas dan tidak boleh dialihkan untuk keperluan di luar yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. "Kami menegaskan bahwa Zakat, Infak, dan Sedekah yang diberikan oleh masyarakat kepada BAZNAS tidak akan digunakan sedikit pun untuk program Makan Bergizi Gratis. Semua dana dialokasikan untuk kepentingan umat sesuai dengan delapan golongan penerima yang telah diatur," ujar Rizaludin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (23/2/2026). ZIS hanya boleh diperuntukkan kepada delapan golongan penerima (asnaf) seperti fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil sesuai dengan syariat Islam. Rizaludin menegaskan bahwa pengelolaan zakat di BAZNAS harus patuh pada ketentuan tersebut dan tidak boleh melanggar aturan yang berlaku. Ia juga menjelaskan perbedaan antara program MBG yang dibiayai oleh anggaran negara dengan dana ZIS yang berasal dari amanah masyarakat. Dalam menjalankan tugasnya, BAZNAS menekankan prinsip 3A, yaitu Aman Syar'i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI. Hal tersebut menjadi dasar bagi pengelolaan zakat agar tidak hanya sesuai dengan ajaran agama, tetapi juga mengikuti hukum dan mendukung kepentingan negara. Program pengentasan kemiskinan, peningkatan akses pendidikan, layanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan bantuan kemanusiaan bagi kelompok rentan menjadi fokus utama dalam pengelolaan dana ZIS di BAZNAS. Rizaludin juga mengajak masyarakat agar tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait penggunaan dana zakat. Dia menegaskan bahwa dana zakat akan disalurkan secara tepat sasaran untuk fakir, miskin, dan kelompok rentan di berbagai wilayah di Indonesia. "Kami menjalankan tata kelola yang transparan dan akuntabel melalui pelaporan serta audit berkala sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan di website resmi BAZNAS, www.baznas.go.id," tambah Rizaludin.
BERITA27/02/2026 | Eman Suherman, S.Pd.I
HUT Ke-13 BAZNAS, Wapres RI Ke-13 Resmikan Makam KH Mahfudh Salam di Fort Willem I Ambarawa Sebagai Kawasan Religi
HUT Ke-13 BAZNAS, Wapres RI Ke-13 Resmikan Makam KH Mahfudh Salam di Fort Willem I Ambarawa Sebagai Kawasan Religi
AMBARAWA, BAZNAS - Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin mengusulkan ulama pejuang KH Mahfudh Salam untuk diajukan sebagai Pahlawan Nasional. Hal itu disampaikannya saat berziarah ke makam KH Mahfudz Salam di kompleks Benteng Willem I (Fort Willem I) Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis 29 Januari 2026.Menurut Ma’ruf Amin, KH Mahfudh Salam merupakan tokoh yang layak memperoleh penghargaan negara atas jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa.“Saya kira KH Mahfudh itu orang yang pantas diajukan. Beliau adalah pejuang bangsa dan wafat dalam rangka memperjuangkan negara dan bangsa. Jadi patut kalau itu diusulkan, dan menurut saya layak,” ujar Ma’ruf Amin.Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perjuangan ulama menjadi bagian penting dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Banyak ulama, kata dia, tidak segan mengorbankan harta hingga nyawa demi mempertahankan bangsa dari penjajah.“Ini bagian dari kehidupan ulama kita. Ada perlawanan melalui Hizbullah dan berbagai gerakan lainnya. Kiai Mahfudz menjadi saksi sejarah, bahkan syahid karena berjuang membela bangsa dan negara,” tuturnya.Ma’ruf Amin menambahkan, keteladanan tersebut harus menjadi inspirasi bagi generasi saat ini sekaligus alasan kuat bagi negara untuk memberikan penghargaan.“Ini menjadi inspirasi kita semua untuk dikenang. Negara selayaknya memberikan penghargaan. Saya bangga sebagai santri, ternyata para kiai dan ulama banyak menorehkan sejarah yang membanggakan,” katanya.Pada kesempatan itu, Ma’ruf Amin juga meresmikan makam KH Mahfudz Salam sebagai kawasan religi. Ia menilai keberadaan makam ulama pejuang di area Benteng Willem I yang telah direvitalisasi menjadi destinasi wisata heritage menghadirkan potensi perpaduan wisata sejarah dan religi di Ambarawa.“Tempat ini bisa memadukan wisata religi dan wisata heritage. Saya kira ini punya daya tarik tersendiri dan nilainya tinggi. Harapannya wisata ini bisa terus maju,” imbuhnya.Ziarah tersebut merupakan rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) di Kabupaten Semarang. Turut hadir dalam ziarah tersebut KH Ahmad Yasir perwakilan keluarga KH Mahfudh Salam dari Kajen Pati, Wakil Bupati Semarang Nur Arifah, dan sejumlah pimpinan BAZNAS Kabupaten Semarang diantaranya Khadziq Faisol (Ketua), Moch Pratomo Wibowo (Wakil Ketua II), Imam Anas Hadi (Wakil Ketua III), serta Pengasuh Ponpes Wali KH Anis Maftuhin.Peringatan HUT ke-25 BAZNAS Kabupaten Semarang diisi berbagai kegiatan, seperti khotmil Quran 30 juz serta penyaluran bantuan sosial berupa 130 buku tata cara salat dan bantuan modal usaha produktif senilai Rp3 juta untuk pengembangan ternak lele bagi warga binaan Lapas Ambarawa.Melalui rangkaian kegiatan tersebut, BAZNAS Kabupaten Semarang menegaskan komitmennya dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah secara amanah dan profesional, sekaligus memperkuat nilai keislaman, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap ulama pejuang bangsa.(sm)
BERITA29/01/2026 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Napi Lapas Ambarawa Dapat Modal Usaha Produktif dan Buku Risalah Tata Cara Shalat dari BAZNAS
Napi Lapas Ambarawa Dapat Modal Usaha Produktif dan Buku Risalah Tata Cara Shalat dari BAZNAS
AMBARAWA, BAZNAS — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Semarang menyalurkan bantuan keagamaan sekaligus pemberdayaan ekonomi bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambarawa, Kamis 29 Januari 2026. Bantuan tersebut diberikan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 BAZNAS Kabupaten Semarang.Bantuan diserahkan oleh Wakil Ketua III BAZNAS Kabupaten Semarang, Dr. H. Imam Anas Hadi, M.S.I kepada Kepala Lapas Kelas IIA Ambarawa, Subakdo Wulandoro. Paket bantuan meliputi buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Al-Qur’an, serta kitab Maulid Diba’i untuk mendukung pembinaan spiritual para warga binaan.Tak hanya itu, BAZNAS juga menyalurkan bantuan modal usaha produktif untuk mendukung pengembangan ternak lele sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi. Program tersebut diharapkan dapat membekali keterampilan bagi warga binaan agar lebih siap kembali ke masyarakat setelah menjalani masa pidana.Imam Anas Hadi menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan bentuk kepedulian BAZNAS terhadap seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan.“Selain memperkuat pembinaan keagamaan, kami juga ingin mendorong kemandirian melalui program usaha produktif. Harapannya, warga binaan memiliki bekal keterampilan yang bermanfaat,” ujarnya.Sementara itu, Subakdo Wulandoro mengapresiasi dukungan yang diberikan BAZNAS Kabupaten Semarang. Menurutnya, bantuan tersebut akan memperkuat program pembinaan mental dan spiritual di Lapas yang saat ini dihuni sekitar 400 warga binaan.Kehadiran buku-buku keagamaan diharapkan dapat menambah semangat warga binaan dalam memperdalam pengetahuan agama serta mempersiapkan diri menyambut bulan suci. (sm)
BERITA29/01/2026 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
BAZNAS, Kemenag, dan BWI Teken MoU ZISWAF, Begini Skema Kerja Samanya
BAZNAS, Kemenag, dan BWI Teken MoU ZISWAF, Begini Skema Kerja Samanya
BAZNAS, UNGARAN - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Semarang menegaskan komitmennya memperluas pendayagunaan zakat, infak, dan sedekah melalui penguatan wakaf produktif. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Perwakilan Kabupaten Semarang, Selasa, 27 Januari 2026, di Aula Kantor Kemenag Kabupaten Semarang Jl. Candi Asri Raya Ungaran.Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang, H. Khadziq Faisol, mengatakan integrasi ZIS dan wakaf menjadi langkah strategis untuk memperbesar dampak sosial dan ekonomi umat. “Selama ini zakat, infak, dan sedekah lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan sosial langsung. Melalui kerja sama ini, BAZNAS mendorong agar dana ZIS juga bisa menopang wakaf produktif sehingga manfaatnya berkelanjutan dan berdampak ekonomi,” kata Faisol.Nota kesepahaman ini juga menjadi dasar penguatan tata kelola dan kepastian hukum. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, H. Ta’yinul Biri Bagus Nugroho, menyebut MoU tersebut sebagai payung koordinasi antar-lembaga. “MoU ini menjadi payung sinergi agar pengelolaan zakat dan wakaf berjalan sesuai regulasi, tertib administrasi, serta memberi kepastian hukum bagi para pengelola,” katanya.Sementara itu, Ketua BWI Perwakilan Kabupaten Semarang, Drs. H. Saefudin, menilai keterlibatan BAZNAS akan memperkuat pengembangan wakaf produktif. “Wakaf produktif membutuhkan dukungan pendanaan dan pengelolaan yang profesional. Kolaborasi dengan BAZNAS membuka peluang integrasi zakat dan wakaf tanpa mengubah prinsip dasar masing-masing,” ujarnya.(hm)
BERITA28/01/2026 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Pelatihan Vokasi Menjahit BAZNAS-Paragon Usai, Peserta Mulai Masuk Perusahaan Mitra
Pelatihan Vokasi Menjahit BAZNAS-Paragon Usai, Peserta Mulai Masuk Perusahaan Mitra
UNGARAN, BAZNAS — Upaya penguatan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah memasuki tahap baru setelah selesainya Pelatihan Vokasi Operator Garment hasil kolaborasi BAZNAS RI dan PT Paragon Technology and Innovation. Kegiatan yang digelar di Aula BLK Komunitas PC Muslimat NU Kabupaten Semarang, Sabtu 6 Desember 2026, menjadi bagian dari Paradaya Movement—gerakan zakat perusahaan PT Paragon yang mendorong mustahik naik kelas hingga siap memasuki dunia kerja.Paradaya Movement merupakan program kolaboratif yang menyalurkan dana zakat perusahaan untuk pelatihan soft skill, vokasi, pendampingan, hingga penempatan kerja. Gerakan ini berjalan melalui kerja sama dengan berbagai Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), salah satunya BAZNAS RI. Fokusnya adalah percepatan kemandirian mustahik melalui jalur keterampilan dan kesempatan kerja di sektor industri garmen.Tahun 2025, BAZNAS RI bersama PT Paragon kembali menyelenggarakan Pelatihan Vokasi Operator Garment di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal dengan total peserta 135 orang. Program ini didukung dana zakat perusahaan sebesar Rp500 juta. Sebanyak 70 peserta mengikuti pelatihan di Kabupaten Semarang melalui BAZNAS Kabupaten Semarang, dan 65 peserta di Kabupaten Kendal melalui BAZNAS Kabupaten Kendal.Pelatihan berlangsung selama 18 hari, dari 10–29 November 2025, setiap Senin hingga Sabtu pukul 08.00–17.00 WIB. Para peserta mendapatkan fasilitas materi, bahan praktik, konsumsi, sertifikat pelatihan, uang saku, serta pendampingan untuk masuk ke perusahaan-perusahaan garmen di wilayah Kabupaten Semarang dan Kendal.Hasilnya, 26 peserta di Kabupaten Semarang sudah diterima bekerja di perusahaan mitra, di antaranya Sumber Bintang Rezeki (8 orang), ISG (9), Sam Sam Jaya (6), dan Fast Fashion (3). Sementara 44 peserta lainnya masih menjalani proses seleksi bersama perusahaan mitra.Dalam sambutan Bupati Semarang yang dibacakan Wakil Bupati Hj. Nur Arifah, pemerintah daerah mengapresiasi kolaborasi antara BAZNAS, PT Paragon melalui Paradaya Movement, BLKK PC Muslimat NU, serta seluruh pihak yang telah berperan dalam menyukseskan pelatihan ini.“Pelatihan ini tidak hanya menambah keterampilan, tetapi juga membuka pintu baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keterampilan menjahit saat ini menjadi peluang besar untuk memperoleh pekerjaan yang layak, bahkan mengembangkan usaha mandiri,” ujarnya.Ia juga menyoroti komitmen peserta yang telah mengikuti 72 jam pembelajaran, yang menunjukkan disiplin dan semangat untuk meningkatkan kualitas diri. Pemerintah daerah turut menyambut baik langkah BAZNAS Kabupaten Semarang yang mendampingi peserta hingga proses masuk ke perusahaan.“Sertifikat pelatihan merupakan modal awal untuk memasuki dunia kerja. Saya berharap keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dunia fashion dan garmen terus berkembang, karena itu para peserta harus terus belajar dan membangun kualitas serta kepercayaan diri,” kata Arifah.Penutupan kegiatan dihadiri Pimpinan BAZNAS RI Bidang Transformasi Digital Nasional Dr. Ir. H. M. Nadratuzzaman Hosen, Direktur Penguatan Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS RI Agus Siswanto, M.AP, jajaran pimpinan BAZNAS Kabupaten Semarang, serta perwakilan perusahaan mitra.Program ini diharapkan mampu mempercepat transformasi mustahik dari penerima zakat menjadi individu mandiri dengan keterampilan yang dibutuhkan industri, serta memperluas akses kerja bagi masyarakat produktif di Kabupaten Semarang dan Kendal.(*)
BERITA08/12/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Balai Ternas BAZNAS di Kesongo Diresmikan, Dorong Penguatan Ekonomi Mustahik
Balai Ternas BAZNAS di Kesongo Diresmikan, Dorong Penguatan Ekonomi Mustahik
UNGARAN, BAZNAS — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama BAZNAS Kabupaten Semarang meresmikan Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, pada Sabtu 6 Desember 2025. Program ini ditujukan untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi mustahik serta mendukung upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Semarang. Deputi II BAZNAS RI, Dr. H.M. Imdadun Rahmat, M.Si., menyampaikan bahwa balai ternak merupakan salah satu program jangka panjang BAZNAS dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat miskin. Menurutnya, program ini terbukti efektif karena memiliki potensi pengembangan dan pemasaran yang luas. “Balai ternak yang kita resmikan hari ini adalah yang ke-55 dari 63 balai ternak yang sedang berproses, masih ada 8 lagi yang sedang menunggu,” ujarnya. Imdadun mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, BAZNAS provinsi dan kabupaten, serta masyarakat setempat yang memungkinkan berjalannya program ini. Ia berharap keberadaan balai ternak dapat memberi manfaat jangka panjang bagi mustahik di Kabupaten Semarang. “Mudahan-mudahan balai ternak ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Saya mengajak semua mitra BAZNAS untuk menyukseskan program pemberdayaan ini sehingga mustahik dapat terangkat statusnya menjadi muzaki,” katanya. Ia turut berpesan kepada jajaran pemerintahan daerah, kepolisian, dan TNI agar memastikan program berjalan sesuai tujuan. Wakil Bupati Semarang, Dra. Hj. Nur Arifah, menilai bahwa program balai ternak menjadi bukti bahwa zakat dapat berperan kuat dalam mendorong kemandirian mustahik. “Balai ternak domba di Dusun Randusari ini saya harapkan menjadi pusat pengembangan ekonomi masyarakat, bukan hanya tempat beternak tetapi juga pusat belajar membangun usaha,” ujarnya. Balai Ternak Kesongo menerima 285 ekor domba untuk dikelola. Selain memberikan bantuan ternak, BAZNAS RI juga mengirim pendamping untuk menguatkan manajemen kelompok hingga pemasaran produk. Wakil Ketua II BAZNAS Provinsi Jawa Tengah, Drs. H. M. Zain Yusuf, M.M., menyampaikan terima kasih atas dukungan BAZNAS RI terhadap berbagai program pemberdayaan di Jawa Tengah, termasuk 18 balai ternak ayam dan kambing, 250 gerobak Z-Chicken, serta Z-Coffee, Z-Mart, dan Z-Auto. “Semoga program ini berkelanjutan dan bisa mensuport desa-desa lainnya,” ujarnya. Acara tersebut dihadiri Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang Khadziq Faisol, S.Sos.; Anggota DPRD Kabupaten Semarang; Pimpinan BAZNAS Kabupaten Salatiga; Direktur Penguatan Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS Nasional; Kakankemenag Kabupaten Semarang; kepala OPD terkait; FORKOPIMCAM; perangkat desa; tokoh masyarakat; serta undangan lainnya.(*)
BERITA08/12/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Baznas Semarang Bangun 25 Jamban Sehat untuk Keluarga Miskin
Baznas Semarang Bangun 25 Jamban Sehat untuk Keluarga Miskin
UNGARAN, BAZNAS – Baznas Kabupaten Semarang memulai program pembangunan jamban sehat bagi 25 rumah tangga miskin (RTM) di wilayah Kabupaten Semarang. Program yang berlangsung mulai 17 November 2025-17 Desember 2025 itu menyasar keluarga asnaf fakir–miskin yang belum memiliki fasilitas sanitasi layak.Program jambanisasi ini menelan anggaran Rp51,875 juta yang bersumber dari dana pendayagunaan di bidang kesehatan Baznas Kabupaten Semarang tahun anggaran 2025. Setiap penerima memperoleh satu unit kloset dan bantuan pembangunan sebesar Rp2 juta untuk pengadaan material dan tenaga.Baznas menyebut program ini penting untuk meningkatkan derajat kesehatan warga, mengingat masih banyak keluarga miskin yang belum memiliki fasilitas sanitasi dasar. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan penyakit berbasis lingkungan dan menurunkan kualitas hidup.Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang, Khadziq Faisol menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan mandat lembaga dalam membantu pemerintah memperluas akses sanitasi layak."Program jambanisasi ini bentuk kepedulian terhadap keluarga miskin agar mereka memiliki fasilitas sanitasi yang sehat," ujar Faisol dalam keterangan tertulisnya, Senin 1 Desember 2025.Penentuan penerima dilakukan melalui pendataan dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan verifikasi lapangan oleh Baznas. Setelah ditetapkan melalui surat keputusan pimpinan, bantuan disalurkan berupa kloset dan dana pembangunan.Para penerima kemudian membangun jamban dengan pendampingan aparat desa dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) kecamatan. Kepala Pelaksana BAZNAS Kabupaten Semarang Syahrul Munir menambahkan, pihaknya juga menyiapkan tim monitoring dari unsur pendistribusian, logistik, hingga evaluasi lapangan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai standar.Baznas berharap program ini bisa mengurangi praktik buang air besar sembarangan (BABS) dan mendorong perilaku hidup bersih."Hasil akhirnya bukan hanya fisik jambannya, tetapi juga meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan lingkungan," kata Munir.Dengan selesainya program ini, 25 rumah tangga miskin ditargetkan telah memiliki jamban sehat dan layak pakai, sejalan dengan upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan menekan angka kemiskinan.
BERITA01/12/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Baznas Semarang Kucurkan Bantuan Modal bagi 45 Pelaku UMKM
Baznas Semarang Kucurkan Bantuan Modal bagi 45 Pelaku UMKM
UNGARAN, BAZNAS – Baznas Kabupaten Semarang menyalurkan bantuan modal usaha bagi 45 mustahik produktif yang bergerak di sektor UMKM. Penyerahan dilakukan Wakil Bupati Semarang, Nur Arifah, mewakili Bupati Ngesti Nugraha, di aula Rumah Kemasan Gedung PLUT Lopait, Tuntang, Rabu siang, 26 November 2025.Dalam program pendayagunaan ekonomi tersebut, Baznas mengalokasikan Rp90 juta, atau Rp2 juta untuk masing-masing penerima. Pada kesempatan yang sama, lembaga itu juga menyalurkan bantuan program jambanisasi bagi 25 mustahik senilai total Rp51,875 juta, serta bantuan peduli bencana alam untuk 12 mustahik dengan total Rp29 juta.Bupati Ngesti Nugraha, melalui sambutan yang dibacakan Wabup, berharap bantuan dapat memberi dorongan nyata terhadap kemandirian ekonomi warga.“Pelaku UMKM juga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Nur Arifah.Wakil Ketua Baznas Kabupaten Semarang, Suud, menjelaskan bahwa bantuan modal ditujukan untuk memperkuat usaha para mustahik agar naik kelas secara bertahap.(sm) “Diharapkan nantinya usaha mereka dapat berkembang. Harapan utamanya mereka nantinya akan menjadi muzakki atau pembayar zakat,” ujarnya.Wakil Ketua Baznas lainnya, Mufid, menambahkan bahwa lembaganya juga menyertai pemberian bantuan dengan program pemberdayaan, termasuk pelatihan menjahit agar warga dapat bekerja di sektor garmen.“Dalam waktu dekat, kami juga memberikan bantuan ternak kambing untuk 30 peternak di Kabupaten Semarang. Ini semua bertujuan membantu Pemkab mengentaskan kemiskinan,” kata Mufid.Salah satu penerima bantuan, Nur Aini (27), penjahit asal Desa Batur, Getasan, mengaku terbantu dengan dukungan tersebut.“Bantuan ini akan saya gunakan membeli mesin jahit baru. Saya juga ingin ikut pelatihan untuk meningkatkan keterampilan,” ujarnya.
BERITA27/11/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
BAZNAS - Kelompok Ternak Menda Ngrembaka Seleksi Bakalan Domba Unggul
BAZNAS - Kelompok Ternak Menda Ngrembaka Seleksi Bakalan Domba Unggul
UNGARAN, BAZNAS – Kelompok Ternak Menda Ngrembaka Kesongo di bawah koordinasi BAZNAS Kabupaten Semarang melakukan seleksi dan pembelian domba bakalan untuk memperkuat kualitas populasi ternak. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 21 November 2025 ini menjadi tahapan penting dalam pengisian kandang dan penguatan program budidaya mustahik.Pengadaan dilakukan secara terarah untuk tiga kategori, yakni fattening (penggemukan), breeding (indukan), dan pejantan, sebagai strategi memperkuat manajemen usaha ternak jangka panjang.Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang Khadziq Faishol mengatakan proses seleksi dilakukan ketat agar dana program dimanfaatkan secara efektif dan memberikan dampak ekonomi bagi mustahik.“Kami tidak sekadar membeli ternak, tapi memastikan setiap domba yang masuk kandang benar-benar layak dari sisi performa, reproduksi, dan kesehatan,” Kata Faisol.“Kalau bibitnya baik, insyaAllah usaha ternak bisa berkembang dan memberi peningkatan pendapatan bagi para mustahik.” sambungnya.Seleksi dilakukan bersama pengurus dan anggota kelompok Mendo Ngrembaka Kesongo, didampingi tim BAZNAS. Seluruh proses dilakukan terbuka, mulai dari pengecekan fisik hingga negosiasi harga dengan peternak pemasok.Pemeriksaan yang dilakukan mencakup fisik dan performa tubuh: bobot, postur, mata, gigi, dan kualitas bulu. Selanjutnya juga dilakukan verifikasi umur, disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan.Selain itu juga dilakukan pemeriksaan terhadap indikator kesehatan seperti kondisi kuku, tanda penyakit, dan vitalitas juga.“Karakteristik bibit, termasuk performa pejantan, potensi pertumbuhan bakalan, hingga produktivitas calon indukan,” imbuh pendamping program Azka Rizky HammadaKoordinator Pendistrubusian dan Pendayagunaan BAZNAS Kabupaten Semarang, Muhammad Muntaha menegaskan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen BAZNAS mengelola dana program secara profesional dan berdampak nyata.“Program ini bukan sekadar memberi bantuan ternak, tetapi membangun usaha yang berkelanjutan. Karena itu proses seleksinya harus terukur, transparan, dan berbasis standar teknis,” kata Muntaha.(sm)
BERITA24/11/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Baznas Kabupaten Semarang Serahkan Donasi Palestina Rp185 Juta, Didominasi Infak Pelajar
Baznas Kabupaten Semarang Serahkan Donasi Palestina Rp185 Juta, Didominasi Infak Pelajar
UNGARAN, BAZNAS — Baznas Kabupaten Semarang menyerahkan donasi kemanusiaan untuk Palestina sebesar Rp185.320.253, hasil penggalangan selama Oktober 2025. Dana tersebut mayoritas berasal dari sekolah-sekolah Islam mulai tingkat RA/TK hingga SMA, bekerja sama dengan Kemenag dan berbagai ormas Islam.Penyerahan dilakukan Ketua Baznas Kabupaten Semarang, Khadzik Faisol, kepada Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, di sela pembukaan pelatihan vokasi operator garmen di BLK Muslimat NU Kabupaten Semarang, Tuntang, Kamis 13 November 2025.“Alhamdulillah, dukungan sekolah-sekolah di Kabupaten Semarang sangat luar biasa. Ini wujud kepedulian kita terhadap saudara-saudara di Palestina yang terus mengalami krisis kemanusiaan,” kata Khadzik.Sebelumnya, di tempat yang sama PC Muslimat NU Kabupaten Semarang juga menyerahkan donasi Palestina sebesar Rp15 juta melalui Baznas Kabupaten Semarang.Khadzik menyampaikan bahwa penggalangan donasi dilakukan sebagai tindak lanjut program Membasuh Luka Palestina. “Dana yang terhimpun akan menjadi titipan umat yang kami salurkan melalui Baznas RI untuk bantuan darurat hingga pemulihan kemanusiaan di Gaza,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa program ini akan menjadi bagian dari target pengumpulan Baznas Kabupaten Semarang pada tahun 2026.Adapun sekolah atau lembaga yang telah mempercayakan donasi Palestina melalui BAZNAS Kabupaten Semarang adalah sebagai berikut:UPZ Kecamatan se-Kabupaten Semarang, SD Istiqomah Ungaran, SMK Widya Praja Ungaran, SD Arrahmah Suruh, MTS Awsaja Tengaran, BMT Sumber Mulia, BMT Hubbul Wathon, BMT Inti Muamalat Bandungan, BMT Sumber Usaha Tuntang, MIN 4 Semarang Susukan, IGRA Kecamatan Bringin, KSPPS Mandiri Mitra Muamalat Getasan, BMT Assaadah Gedangan Tuntang, BMT Bina Usaha Karangjati, SDTQ Sahabat Keluarga Leyangan, MI Miftahul Fallah Batur 1 Getasan, Mts NU Ungaran, BMT Al Fattah Susukan, BMT Al Hikmah Langensari, RA se-Kecamatan Bandungan, MI Bidayah Candi Bandungan, KKMI Kecamatan Tengaran, SMK Muhammadiyah Ungaran, Yayasan Assalamah Ungaran, MI Darussalam Sumowono, IGRA Kecamatan Sumowono, UPZ Masjid Baiturrahman Sebantengan, RA Balitasari Kalirejo, SMA Sudirman Ambarawa, MA Mambaul Qur'an Nglarangan, MTS Attosari Kalirejo, MI Kalirejo, MIN 5 Semarang (Jambu), Kelompok MI se-Jambu, KSU Usaha Mandiri, MAN 2 Semarang Tengaran, PC Muslimat Kabupaten Semarang NU Ungaran.Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Koordinator Pengumpulan BAZNAS Kabupaten Semarang – Shodri Said 0815-4871-1197. Dana dapat disalurkan melalui BAZNAS Kabupaten Semarang dengan transfer melalui rekening BRI 0327.01.002110.56.2 a.n. BAZNAS Kabupaten Semarang.(sm)
BERITA14/11/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Baznas RI–Paragon Gelar Pelatihan Menjahit di Kabupaten Semarang, Target Tekan Pengangguran
Baznas RI–Paragon Gelar Pelatihan Menjahit di Kabupaten Semarang, Target Tekan Pengangguran
UNGARAN, BAZNAS — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bersama PT Paragon Technology and Innovation kembali menggelar pelatihan menjahit bagi para mustahik di Kabupaten Semarang dan Kendal. Program ini menjadi salah satu upaya mengurangi pengangguran melalui peningkatan keterampilan dan sertifikasi profesi, terutama bagi warga fakir, miskin, dan fisabilillah yang belum memiliki pekerjaan tetap.Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Paradaya Movement, program pemberdayaan yang difokuskan pada peningkatan kapasitas kerja dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat penerima zakat. Tahun ini, sebanyak 135 peserta mengikuti pelatihan, terdiri dari 70 orang asal Kabupaten Semarang dan 65 orang dari Kendal.Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, menyampaikan apresiasi kepada PT Paragon Technology and Innovation atas komitmen dan kepercayaannya menyalurkan zakat perusahaan untuk mendukung pelatihan berbasis kompetensi operator garmen tersebut.“Kami berharap kegiatan ini bisa bantu menurunkan angka pengangguran dan meningkatkan keterampilan kerja para mustahik supaya mereka bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya,” ujar Saidah di Kabupaten Semarang, Kamis (13/11/2025).Saidah menjelaskan, peserta menerima pelatihan teknis menjahit, pendampingan, serta sertifikasi profesi. Mereka yang dinyatakan kompeten akan difasilitasi untuk bekerja di perusahaan garmen di wilayah Jawa Tengah, terutama Kabupaten Semarang dan Kendal. Program ini juga melibatkan Baznas Provinsi Jawa Tengah, Baznas Kabupaten Semarang dan Kendal, BLKK PC Muslimat NU Kabupaten Semarang, serta LPK Muliya.Ketua Baznas Kabupaten Semarang, Khadik Faisol, menegaskan bahwa pengangguran masih menjadi tantangan serius di daerahnya. Ia menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Semarang per Agustus 2024 yang mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 3,73 persen. Pada periode yang sama, angka kemiskinan mencapai 76,87 ribu jiwa.“Tingginya pengangguran berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat dan stabilitas sosial. Beberapa faktor penyebabnya antara lain keterbatasan lapangan kerja dan rendahnya keterampilan tenaga kerja,” ujar Khadik.Menurutnya, diperlukan langkah strategis dan berkelanjutan untuk merespons kondisi tersebut. Salah satunya melalui pelatihan keterampilan berbasis industri. “Tahun ini kami bersama Baznas RI bekerja sama dengan PT Paragon dan BLKK Muslimat NU Kabupaten Semarang mencoba menjawab kebutuhan tenaga kerja dengan pelatihan menjahit berbasis kompetensi industri konveksi dan garmen,” kata Khadik.Human Resource Business Partner Lead Semarang PT Paragon Technology and Innovation, Anita Mega Tristianti, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin antara perusahaan dan Baznas. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Paragon dalam pemberdayaan masyarakat melalui penyaluran zakat perusahaan.“Kami memaknai kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi gerakan nyata untuk membuka jalan agar masyarakat lebih mandiri. Ketika mereka dibekali keterampilan dan kesempatan kerja, taraf hidup akan meningkat dan berdampak pada pembangunan ekonomi negara,” kata Anita.Pembukaan pelatihan berlangsung di BLKK PC Muslimat NU Kabupaten Semarang di Tuntang. Sejumlah pejabat hadir, antara lain Kabag Kesra Setda Kabupaten Semarang Asep Mulyana SS.TP, MM mewakili Bupati Semarang; Ketua PW Muslimat NU Jateng Prof. DR. Hj Ismawati Hafidz M.Ag; Ketua Baznas Kabupaten Semarang Khadik Faisol S.Sos; Wakil Ketua II Baznas Kabupaten Kendal Munhamir, SH; Kepala Disnaker Kabupaten Semarang M. Taufikurahman S.Ag, M.Si; Ketua BLKK Muslimat NU Kabupaten Semarang Nurhayati; Ketua FKUB Kabupaten Semarang KH. Habib Soleh M.Pd; serta Penasihat Muslimat Hj Nur Hidayati S.Pd.I.Dari pihak perusahaan mitra turut hadir perwakilan PT Fast Jaya Production, PT Sam-Sam Jaya Garment, PT Sumber Bintang, PT Muara Krakatau, dan PT Inti Sukses Garmindo.(sm)
BERITA14/11/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
BAZNAS Kabupaten Semarang Salurkan Daging DAM untuk Pencegahan Stunting
BAZNAS Kabupaten Semarang Salurkan Daging DAM untuk Pencegahan Stunting
UNGARAN, BAZNAS - Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Semarang menyalurkan olahan daging DAM atau hadyu dalam kemasan siap saji kepada keluarga penerima manfaat di wilayah dengan risiko stunting tinggi. Program ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Mudzakarah Perhajian 2024 yang dikeluarkan oleh Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama RI.Dasar penyaluran ini merujuk pada Keputusan Hai’ah Kibar Ulama Saudi No. 77 (21/10/1400 H) yang menyatakan bahwa hadyu yang disembelih di luar Tanah Haram boleh didistribusikan di tempat penyembelihan atau ke daerah lain selama diberikan kepada fakir miskin — termasuk mereka yang berada di luar Tanah Suci, seperti di Indonesia.Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang, Khadziq Faisol, menjelaskan bahwa distribusi daging DAM kali ini difokuskan untuk membantu upaya pencegahan stunting di daerah berisiko tinggi.“Kami menyalurkan daging olahan ini ke wilayah-wilayah dengan angka stunting yang masih tinggi, sebagai bentuk dukungan terhadap program nasional penurunan stunting dan penanganan kemiskinan ekstrem,” kata Khadziq di Semarang, Selasa 14 Oktober 2025Sebanyak 1.150 kemasan daging olahan disalurkan kepada 230 keluarga penerima manfaat (KK) di 6 desa pada 5 kecamatan di Kabupaten Semarang. Enam titik distribusi tersebut meliputi; Desa Kalongan (Ungaran Timur), Desa Nyatnyono (Ungaran Barat), Desa Jatirunggo (Pringapus), Desa Pringsari (Pringapus), Pondok Pesantren Al Hasan Wujil (Bergas), Pondok Pesantren Al Muhlasin Rembes (Bringin).Menurut Khadziq, sasaran program ini tidak hanya keluarga miskin berisiko stunting, tetapi juga guru, tenaga pendidik, dan dai berpenghasilan rendah di pesantren. Data penerima disusun berdasarkan hasil koordinasi dengan DP3AKB Kabupaten Semarang, serta melibatkan perangkat desa, bidan desa, dan penyuluh KB.Sebagai informasi, daging DAM tersebut dikemas dalam bentuk olahan siap saji dengan tiga varian rasa, yakni rendang, gulai, dan kari. Setiap paket berisi lima pouch dengan berat masing-masing 20 gram. Penerimaan bahan DAM dari BAZNAS RI dilakukan pada awal Oktober 2025, kemudian dilakukan proses pengemasan dan distribusi hingga selesai pada 13 Oktober 2025.Salah satu penerima manfaat, Siti Ibadatun (29), ibu hamil asal Dusun Kunciputih, Desa Jatirunggo, mengaku bersyukur menerima bantuan tersebut.“Alhamdulillah, ini sangat membantu untuk menambah asupan gizi. Dagingnya juga sudah matang dan bisa langsung dihangatkan,” ujarnya.Khadziq menambahkan, program ini diharapkan menjadi model integrasi zakat dan program kesehatan masyarakat.“Kami ingin menunjukkan bahwa zakat, infaq, dan sedekah bisa bersinergi dengan upaya menurunkan angka stunting. Ini bagian dari khidmat BAZNAS untuk kesejahteraan umat,” tuturnya.Dikutip dari Kemenag.go.id, untuk kali pertama, Indonesia secara resmi menyalurkan daging Dam dan Hadyu dalam bentuk olahan daging siap saji kepada masyarakat.Peluncuran distribusi olahan daging Dam ini dilakukan oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar di kantor Baznas, Jakarta, Senin 8 September 2025.Tahun ini, Dam berhasil dikumpulkan dari 8.447 ekor domba/kambing dengan nilai setara Rp21,3 miliar. (sm)
BERITA22/10/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Pembukaan Lahan untuk Pembangunan Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo Dimulai
Pembukaan Lahan untuk Pembangunan Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo Dimulai
UNGARAN, BAZNAS - Kelompok Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo melaksanakan kegiatan kerja bakti untuk pembukaan lahan yang akan digunakan sebagai lokasi kandang dan sarana pendukung di desa Kesongo, Guntang, Kabupaten Semarang, Jumat 12 September 2025.Kegiatan ini dipimpin langsung oleh ketua kelompok dan diikuti oleh seluruh anggota.Mereka bekerja sama dengan semangat gotong royong untuk membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman dan semak yang ditinggalkan penggarap sebelumnya.Kegiatan kerja bakti ini juga dihadiri dan didampingi oleh perwakilan SPPQT, Pemerintah Desa Kesongo, serta BAZNAS Kabupaten Semarang, yang memberikan dukungan moral bagi kelompok. Pembukaan lahan ini menjadi langkah awal penting dalam memulai pembangunan Balai Ternak, yang diharapkan dapat menjadi pusat pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan peternak.Semangat gotong royong anggota kelompok diharapkan menjadi modal utama dalam keberhasilan program pemberdayaan ini. Dengan kerja sama yang baik dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo dapat menjadi contoh keberhasilan program pemberdayaan masyarakat melalui peternakan.(*)
BERITA12/09/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Gelar Pertemuan Perdana dengan Dinas Peternakan, Sinergi Program Balai Ternak
Gelar Pertemuan Perdana dengan Dinas Peternakan, Sinergi Program Balai Ternak
UNGARAN, BAZNAS - BAZNAS Kabupaten Semarang bersama pendamping Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo mengadakan pertemuan perdana dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Semarang, Jumat 12 September 2025. Pertemuan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi dan memperkenalkan program Balai Ternak yang sedang dirintis di Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang.Dalam pertemuan tersebut, dibahas gambaran umum program Balai Ternak, termasuk rencana pembangunan kandang, pemberdayaan mustahik, dan strategi pendampingan kelompok. Dinas Peternakan memberikan masukan teknis awal terkait manajemen ternak dan tata kelola kelompok agar program dapat berjalan sesuai standar.Pertemuan ini diharapkan dapat menjalin sinergi antara Baznas, pendamping lapangan, dan dinas terkait, sehingga pelaksanaan program Balai Ternak dapat lebih terarah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan program ini dapat meningkatkan kesejahteraan peternak dan masyarakat sekitar.(sm)
BERITA12/09/2025 | Syahrul Munir
BAZNAS Kukuhkan Pengurus Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo
BAZNAS Kukuhkan Pengurus Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo
UNGARAN, BAZNAS – Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo menggelar orientasi dan pengukuhan pengurus di Aula Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Kamis 11 September 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh Pimpinan BAZNAS Kabupaten Semarang, SPPQT, pendamping, serta pemerintah desa setempat.Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang, Khadziq Faisol, dalam sambutannya menjelaskan alur program balai ternak yang bekerja sama dengan BAZNAS RI, BAZNAS Kabupaten, Pemdes Kesongo, dan SPPQT. Ia berharap mustahik yang hadir dapat menjadi muzaki di masa depan.Sesi pembekalan diisi oleh Pengasuh Ponpes WALI - KH Anis Maftuhin yang memberikan motivasi tentang pentingnya menjaga kekompakan dan kerja sama kelompok. Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat dalam kelompok adalah wajar, namun yang penting adalah bagaimana mengelolanya dengan baik dan berpegang pada Al-Qur’an.Acara ditutup dengan pengukuhan pengurus Balai Ternak Menda Ngrembaka Kesongo oleh Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang.Setelah dikukuhkan, para pengurus diharapkan dapat memimpin kelompok dengan amanah dan kompak. Seluruh rangkaian acara diakhiri dengan foto bersama peserta dan tamu undangan.(*)
BERITA12/09/2025 | Syahrul Munir
Matangkan Program Balai Ternak di Desa Kesongo: BAZNAS Tinjau Lokasi dan Konsolidasi Lanjutan
Matangkan Program Balai Ternak di Desa Kesongo: BAZNAS Tinjau Lokasi dan Konsolidasi Lanjutan
UNGARAN, BAZNAS – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Semarang bersama Pemerintah Desa Kesongo, pendamping program, pengurus kelompok Balai Ternak, serta mitra dari Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) melaksanakan peninjauan lahan dan rapat konsolidasi program Balai Ternak di Dusun Randusari, Desa Ngreco Kesongo, Kecamatan Tuntang, Kamis 4 September 2025.Peninjauan dilakukan di lahan seluas sekitar satu hektar di RT 03 RW 04 desa setempat.Lokasi tersebut dinilai strategis dan memenuhi syarat sebagai pusat pengembangan Balai Ternak. Kepala Desa Kesongo, Supriyadi, menyatakan dukungan penuh pihak desa.“Lahan ini sangat layak untuk program Balai Ternak. Kami siap mendukung demi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.Usai peninjauan, BAZNAS menggelar rapat konsolidasi bersama pemangku kepentingan. Agenda yang dibahas mencakup penetapan lahan, perencanaan pembangunan kandang dengan layout area, pembagian peran, hingga penandatanganan pakta integritas mustahik.Koordinator Program Balai Ternak BAZNAS Kabupaten Semarang, Romdhon Fitriyanto, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk pemberdayaan mustahik yang diarahkan menuju kemandirian.“Balai Ternak diperuntukkan bagi mustahik agar kualitas hidup mereka meningkat. Harapannya, ke depan mereka bisa bertransformasi menjadi muzaki, munfiq, atau mutashodiq,” ujarnya.Perwakilan SPPQT, Yoyo, juga memastikan dukungan lembaganya. “Kami siap membantu penyediaan pakan ternak agar program berjalan lancar dan berkesinambungan,” katanya.Seperti diberitakan sebelumnya, BAZNAS Kabupaten Semarang telah menggelar sosialisasi calon mustahik program Balai Ternak di Balai Desa Kesongo pada akhir Agustus lalu. Kegiatan tersebut diikuti 30 calon mustahik dan menjadi tahap awal sebelum dilakukan verifikasi lapangan serta konsolidasi lanjutan.(*)
BERITA05/09/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
BAZNAS Kabupaten Semarang Fasilitasi Pendampingan Keluarga Risiko Stunting di Desa Lerep
BAZNAS Kabupaten Semarang Fasilitasi Pendampingan Keluarga Risiko Stunting di Desa Lerep
UNGARAN, BAZNAS – Upaya percepatan penurunan angka stunting terus dilakukan di Kabupaten Semarang. Rabu 3 September 2025, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Semarang bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Semarang menggelar kegiatan pendampingan keluarga risiko stunting di Posyandu Mekarsari 5, Kampung Alpukat, Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat.Plt Kepala DP3AKB Kabupaten Semarang, Dwi Saiful Noor Hidayat, menyampaikan bahwa pendampingan ini merupakan bentuk kolaborasi lintas sektor untuk memastikan pemenuhan kebutuhan gizi keluarga berisiko stunting. “Kami berharap pendampingan ini mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya asupan gizi seimbang sejak masa kehamilan hingga anak usia dua tahun,” ujarnya.Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Semarang, Suud, S.Pd.I, menyerahkan bantuan uang tunai untuk pemenuhan gizi bagi tiga ibu hamil serta tujuh anak di bawah dua tahun yang teridentifikasi mengalami stunting. “Kami berharap bantuan ini dapat mendukung kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak,” kata Suud.Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Desa Lerep, Sumariyadi, serta Camat Ungaran Barat, Aris Muji Widodo. Mereka menyambut baik sinergi antara pemerintah daerah, BAZNAS, dan masyarakat dalam menekan angka stunting di wilayahnya.Acara di Posyandu Mekarsari 5 ini dirangkaikan dengan layanan kesehatan rutin, penimbangan balita, konsultasi gizi, serta edukasi pola hidup sehat bagi keluarga.
BERITA05/09/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
BAZNAS Gelar Sosialisasi Calon Mustahik Program Balai Ternak di Desa Kesongo
BAZNAS Gelar Sosialisasi Calon Mustahik Program Balai Ternak di Desa Kesongo
TUNTANG, BAZNAS – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Semarang bersama Pemerintah Desa Kesongo menggelar Rapat Sosialisasi Calon Mustahik Program Balai Ternak BAZNAS RI di Balai Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang.Kegiatan ini diikuti oleh 30 calon mustahik yang sebelumnya diusulkan oleh Pemerintah Desa Kesongo sebagai penerima manfaat. Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang, Koordinator Program Balai Ternak Romdhon Fitriyanto, Pendamping Program Nurlaili Azizah, serta Kepala Desa Kesongo Supriyadi.Agenda sosialisasi meliputi pengenalan pendamping program, konfirmasi kesiapan calon mustahik, serta pemaparan teknis program.Usai sosialisasi, Pendamping Program Nurlaili Azizah melakukan verifikasi terhadap para calon mustahik. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan konsolidasi bersama di Balai Desa Kesongo.Program Balai Ternak yang akan digulirkan di Desa Kesongo ini rencananta menargetkan pemberdayaan terhadap 30 kepala keluarga mustahik dengan dukungan pengelolaan ternak sebanyak 285 ekor domba yang terdiri dari 15 pejantan, 150 indukan, dan 120 bakalan jantan.Selain mustahik, program juga melibatkan berbagai stakeholder, antara lain Pemerintah Desa Kesongo, serta Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) sebagai mitra lokal.Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang Khadziq Faisol menyampaikan bahwa program ini merupakan ikhtiar nyata pemberdayaan masyarakat berbasis zakat. “Kami berharap para mustahik yang terpilih bisa serius dalam mengelola program ini, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan untuk peningkatan kesejahteraan keluarga sekaligus memperkuat ketahanan pangan desa,” ujarnya.Sementara itu, Pendamping Program Nurlaili Azizah menegaskan pentingnya proses verifikasi lapangan. “Insyaallah hari ini kita langsung turun agar data calon mustahik benar-benar valid sesuai kondisi di lapangan,” katanya.Kepala Desa Kesongo, Supriyadi, menyambut positif langkah ini dan menegaskan komitmen pemerintah desa dalam mendukung suksesnya program. “Kami siap bersinergi dengan BAZNAS agar Balai Ternak bisa menjadi program unggulan di Kesongo,” ucapnya.(*)
BERITA27/08/2025 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Semarang.

Lihat Daftar Rekening →