WhatsApp Icon
banner
banner
banner
banner

Berita Terkini

BAZNAS Kabupaten Semarang Salurkan 199.500 Liter Air Bersih untuk 2.374 KK Terdampak Kekeringan
BAZNAS Kabupaten Semarang Salurkan 199.500 Liter Air Bersih untuk 2.374 KK Terdampak Kekeringan
UNGARAN, BAZNAS – BAZNAS Kabupaten Semarang menyalurkan 199.500 liter air bersih kepada 2.374 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekeringan di Kecamatan Suruh dan Bringin. Bantuan tersebut didistribusikan selama 4 hari sejak 25 Agustus 2026 ke sejumlah dusun di kedua kecamatan tersebut yang mengalami kekurangan air selama musim kemarau.Penyaluran air bersih merupakan bagian dari program BAZNAS Tanggap Bencana untuk membantu warga memenuhi kebutuhan air selama musim kemarau. Kecamatan Suruh dan Bringin menjadi wilayah prioritas karena sejumlah wilayah di kedua kecamatan tersebut mengalami kekurangan air bersih.Di Kecamatan Suruh, distribusi air menyasar 767 KK di tiga desa, yakni Desa Kedungringin, Dadapayam, dan Sukorejo. Sebanyak 12 tangki berkapasitas per unitnya 9.500 liter air didistribusikan ke wilayah tersebut.Di Desa Kedungringin, bantuan disalurkan ke Dusun Jagir yang dihuni 260 KK dengan alokasi empat tangki. Di Desa Dadapayam, distribusi mencakup Dusun Jambe untuk 50 KK, Dusun Jangglengan 141 KK, dan Dusun Bulu 123 KK. Masing-masing dusun mendapat dua tangki.Adapun di Desa Sukorejo, air bersih disalurkan ke Dusun Glagahombo untuk memenuhi kebutuhan 193 KK dengan alokasi dua tangki.Camat Suruh Vega Lazuardi mengatakan bantuan air bersih sangat dibutuhkan masyarakat karena sejumlah sumber air mulai berkurang akibat musim kemarau.“Bantuan ini sangat membantu masyarakat, terutama warga di wilayah yang sumber airnya mulai berkurang akibat musim kemarau. Kami berterima kasih kepada BAZNAS yang ikut merespons kebutuhan warga,” kata Vega.Menurut dia, pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa terus memantau wilayah yang mengalami kekurangan air dan berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.Sementara itu, di Kecamatan Bringin, distribusi air menyasar 1.385 KK di Desa Wiru, Truko, dan Rembes. Sebanyak sembilan tangki air didistribusikan ke wilayah tersebut.Di Desa Wiru, bantuan air diberikan kepada warga Dusun Jrebeng sebanyak 219 KK dengan alokasi tiga tangki dan Dusun Mojo sebanyak 62 KK dengan dua tangki. Kemudian di Desa Truko, dua tangki air disalurkan untuk warga Dusun Krajan yang terdiri atas 122 KK.Distribusi juga menjangkau Desa Rembes. Bantuan diberikan kepada 1.004 KK di Dusun Rembes, Watugimbal dan Belo .Pj Kepala Desa Rembes Pujiyanto mengatakan bantuan air bersih sangat berarti bagi warga karena kebutuhan air menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat selama musim kemarau.“Bantuan air bersih ini sangat berarti bagi warga kami. Air menjadi kebutuhan utama, sehingga droping seperti ini sangat membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air,” ujar Pujiyanto.Dia berharap distribusi air dapat dilakukan secara berkelanjutan selama kondisi kekeringan masih terjadi, terutama apabila sumber air warga belum kembali mencukupi kebutuhan sehari-hari.Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang mengatakan penyaluran air bersih merupakan bagian dari kepedulian lembaga terhadap warga yang terdampak kekeringan. Setiap musim kemarau, BAZNAS ikut mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.“Dana zakat yang dititipkan melalui BAZNAS manfaatnya kembali kepada masyarakat. Salah satunya melalui bantuan air bersih untuk warga yang menghadapi kekurangan air pada musim kemarau,” katanya.Menurut dia, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari realisasi program BAZNAS Tanggap Bencana Kabupaten Semarang. Bantuan diarahkan untuk meringankan beban warga sekaligus membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di wilayah yang terdampak kekeringan.“Masyarakat bisa ikut brsedekah air dengan membayarkan infaknya melalui rekening Rek BSI 5555077787 atas nama BAZNAS KAB.SEMARANG QQ BENCANA,” pungkasnya.(*)
28/08/2026 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
“Ukhuwah Rabbitiyah”: Membangun Ekosistem Peternak Kelinci Menjadi Berdaya
“Ukhuwah Rabbitiyah”: Membangun Ekosistem Peternak Kelinci Menjadi Berdaya
UNGARAN, BAZNAS - Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang Khadziq Faisol punya istilah sendiri untuk menggambarkan harapannya terhadap Bantar Rabbit Farm (BRF), kelompok peternak kelinci di Dusun Bantar, Desa Popongan, Kecamatan Bringin. Ia menyebutnya “Ukhuwah Rabbitiyah”.Istilah itu disampaikan Faisol saat BAZNAS menyerahkan bantuan pengembangan modal usaha Rp30 juta kepada BRF, Jumat 21 Agustus 2026. Menurut dia, bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penambahan kandang dan indukan. BRF bisa berkembang menjadi sentra budidaya sekaligus pusat informasi dan pengetahuan tentang kelinci di Popongan.“Semoga kerja sama ini tidak berhenti di sini. Tidak hanya peternaknya, tetapi juga menjadi pusat informasi dan pengetahuan tentang kelinci,” kata Faisol.Ketua kelompok Bantar Rabbit Farm Margono Muzakir, mengatakan bantuan tersebut akan digunakan untuk memperbaiki kandang, menambah indukan, dan mengembangkan usaha.Kelompok yang semula beranggotakan sekitar 30 orang itu kini tersisa sekitar 22 anggota. Jumlah ternaknya diperkirakan sekitar 100 ekor.Margono melihat masih banyak ruang untuk mengembangkan usaha kelinci. Selain budidaya, BRF berencana pengembangan wisata edukasi bagi anak-anak sekolah, kuliner berbahan kelinci, hingga penjualan pupuk organik dari kotoran kelinci.Untuk wisata edukasi, misalnya, anak-anak dapat datang mengenal kelinci dan cara pemeliharaannya, termasuk memberi makan secara langsung.Gagasan tersebut sejalan dengan harapan Kepala Desa Popongan Nurul Huda. Ia menyebut peternakan kelinci mulai menjadi salah satu ikon desa dan berharap Popongan berkembang menjadi sentra kelinci.“Peternakan kelinci ini jadi ikon Desa Popongan. Harapannya menjadi sentra kelinci, sehingga program ini bisa merembet ke seluruh desa,” katanya.Menurut Faisol, bantuan Rp30 juta itu bukan akhir dari program pemberdayaan. BAZNAS Kabupaten Semarang juga akan melakukan pendampingan terhadap kelompok tersebut.Faisol mengatakan BRF sebelumnya telah mendapatkan pelatihan budidaya kelinci sekitar setahun lalu. Ia berharap proses tersebut berlanjut sehingga bantuan yang diberikan benar-benar menghasilkan perkembangan usaha.“Terima kasih kepada para muzaki dan munfik yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekah kepada BAZNAS,” kata Faisol.Pola pemberdayaan melalui pendampingan peternak sebelumnya juga dilakukan BAZNAS di Balai Ternak Menda Ngrembaka, Desa Kesongo, Kecamatan Tuntang.Program pembinaan peternak kambing di sana telah berjalan sekitar setahun. Pada Idul Adha lalu, ternak binaan sudah dapat dipanen untuk kebutuhan hewan kurban maupun penyembelihan dam haji.Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bantuan ternak membutuhkan proses. Faisol berharap BRF tidak hanya berkembang dari sisi jumlah ternak. Pengetahuan tentang kelinci juga diharapkan menyebar dan menjadi bagian dari pengembangan ekonomi desa.Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan zakat tidak hanya diukur dari bantuan yang tersalurkan. Ada harapan penerima manfaat dapat berkembang secara ekonomi dan suatu saat mampu menjadi muzaki.“Kalau sudah sukses menjadi juragan kelinci, jangan lupa menjadi muslim yang kafah dengan membayar zakat,” ujar Faisol.(*)
21/08/2026 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang
Kader Penggerak Zakat Semarang Paparkan Rencana Tindak Lanjut Fundraising
Kader Penggerak Zakat Semarang Paparkan Rencana Tindak Lanjut Fundraising
UNGARAN, BAZNAS — Peserta Bimbingan Teknis Kader Penggerak Zakat Kabupaten Semarang memaparkan rencana tindak lanjut (RTL) fundraising setelah menjalani praktik penghimpunan zakat selama hampir sebulan. Mereka membawa sejumlah gagasan, dari gerakan infak subuh berbasis QRIS hingga kampanye zakat melalui media sosial.Pemaparan itu berlangsung dalam Seminar Laporan Rencana Tindak Lanjut (RTL) Fundraising Zakat di Aula Kantor BAZNAS Kabupaten Semarang, Selasa, 18 Agustus 2026. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut praktik fundraising yang berlangsung pada 13 Juli hingga 8 Agustus 2026.Program Bimtek Kader Penggerak Zakat itu merupakan kerja sama Balai Diklat Keagamaan Semarang, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, dan BAZNAS Kabupaten Semarang.Ketua BAZNAS Kabupaten Semarang Khadziq Faisol mengatakan praktik lapangan menjadi bagian penting untuk menguji kemampuan kader setelah mendapatkan pembekalan dalam bimtek.“Fundraising sekarang tidak bisa hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Kader harus mampu membaca potensi di wilayahnya, membangun pendekatan dengan masyarakat, dan memanfaatkan teknologi digital agar zakat dan infak lebih mudah dihimpun,” kata Khadziq.Seminar tersebut diikuti peserta yang terbagi dalam enam kelompok atau zona. Masing-masing kelompok memaparkan hasil praktik sekaligus rencana tindak lanjut fundraising berdasarkan potensi dan karakter masyarakat di wilayah dampingan.Dalam seminar itu, setiap kelompok memaparkan strategi yang disusun berdasarkan karakter wilayah dan calon muzaki yang mereka bidik.Kelompok Zona 6, yang terdiri atas kader dari Bandungan dan Sumowono, mengusulkan optimalisasi gerakan “Ayo Infak Subuh” berbasis digital dengan menggunakan QRIS. Gerakan tersebut akan diperkuat melalui kampanye media sosial bertajuk “Infak Kecil, Dampak Besar”.Mereka juga merancang kartu Infak Subuh di lingkungan KUA dan mengajak UPZ kecamatan terlibat dalam penghimpunan.Kelompok yang mencakup Banyubiru, Jambu, dan Ambarawa memilih pendekatan ganda. Secara luring, kader akan melakukan pemetaan secara humanis dengan menyasar pelaku UMKM dan pedagang komoditas.Target penghimpunan mereka sebesar Rp500 ribu per kader setiap bulan.Untuk jalur digital, kelompok tersebut menyiapkan konsep infak tematik yang menyasar masyarakat umum dengan target penghimpunan yang sama. Mereka juga merancang ekosistem zakat digital melalui penyebaran stiker QRIS di ruang pertemuan, kantor, dan lokasi UMKM.Kampanye akan diperkuat melalui WhatsApp, tautan media digital, serta landing page UPZ.Sementara kelompok yang terdiri atas wilayah Ungaran Barat, Ungaran Timur, dan Bringin menyasar generasi muda melalui program “Gen Z Care”.Program tersebut menggunakan Instagram, TikTok, Facebook, WhatsApp Business, QRIS, tautan donasi, dan landing page. Sasaran yang dituju antara lain karyawan muda, ASN, guru bersertifikasi, pekerja digital, freelancer, kreator konten, pendiri startup, profesional muda, serta peserta bimbingan perkawinan di KUA.Target penghimpunannya Rp300 ribu per bulan untuk periode Agustus 2026 hingga Juli 2027.Kelompok tersebut juga menyusun program “Koin Manfaat”, berupa kampanye sedekah melalui Z-Mart, kotak koin kembalian, dan program “Jumat Berkah”. Program ini menargetkan penghimpunan Rp100 ribu.Khadziq mengatakan penilaian terhadap peserta tidak hanya didasarkan pada jumlah dana yang berhasil dihimpun. Kemampuan menyusun strategi dan membangun ekosistem zakat di wilayah masing-masing juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.“Yang kami nilai bukan hanya berapa dana yang terkumpul, tetapi bagaimana kader membangun ekosistem zakat di wilayahnya. Karena tujuan akhirnya adalah membangun kesadaran masyarakat untuk berzakat dan berinfak secara berkelanjutan,” ujar Khadziq.Pemaparan RTL tersebut sekaligus menjadi tahap evaluasi setelah peserta menjalani praktik fundraising. Para peserta diuji oleh pimpinan BAZNAS Kabupaten Semarang, Khadziq Faisol, M. Mufid, dan M. Anas Hadi.Penilaian peserta mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil penilaian menjadi bagian dari evaluasi program sekaligus dasar bagi peserta untuk menjalankan rencana tindak lanjut di wilayah masing-masing.Melalui RTL tersebut, kader tidak hanya diminta kembali dengan target penghimpunan. Mereka juga harus menentukan calon muzaki, membangun jejaring dengan UPZ, memilih pendekatan yang sesuai, serta memanfaatkan kanal digital untuk memperluas penghimpunan zakat dan infak.(*)
19/08/2026 | Humas BAZNAS Kabupaten Semarang

Agenda Pimpinan

Artikel Terbaru